Oleh: psikologi2009 | Maret 31, 2014

PSIKOLOGI: Mengenal Pribadi Positive Thinking Dan Negative Thinking

FACEBOOK-PsikologiMengenalPribadiPositiveThinkngDanNegativeThinking

DALAM kehidupan sehari-hari kita pasti pernah mengalami penilaian-penilaian negatif dari orang lain. Kita selalu dianggap salah, padahal belum tentu salah. Kita sering dikritik, padahal belum tentu kita mempunyai kekurangan. Kita sering dinilai negatif, padahal belum tentu negatif. Artinya, kita sering menghadapi orang-orang yang mempunyai kepribadian “Negative  Thinking”. Artikel ini penulis ambil dari pengalaman pribadi yang penulis kumpulkan dari tahun ke tahun. Oleh karena itu di dalam contoh-contoh, penulis menggunakan kata “Saya”.

Apakah positive thinking itu?
Positive thinking yaitu orang yang selalu berpikir positif dalam menghadapi banyak hal. Yang negatif memang ada, tetapi yang dilihat adalah sisi-sisi positifnya sedangkan sisi-sisi negatifnya sedapat mungkin jangan sampai dimunculkan. Cara berpikirnya positif karena tujuannya positif.

Ciri-ciri positive thinking

-Tujuannya positif

-Bisa menerima pendapat orang lain walaupun berbeda

-Tidak suka membantah

-Tidak suka berdebat

-Berusaha memberikan pengertian dan pencerahan

-Bersikap menghargai orang lain

-Memahami cara berpikir orang lain

-Mencari dan mendapatkan kebenaran

-Tidak pernah salah paham

-Kreatif dan suka berkarya

-Tidak suka mencela melainkan meluruskan pendapat yang salah

-Selalu punya persepsi positif

-Selalu melihat masalah secara objektif (berdasarkan fakta)

Apakah negative thinking itu?

Negative  thinking yaitu orang yang selalu berpikir negatif dalam menghadapi banyak hal. Yang positif memang ada, tetapi yang dilihat adalah sisi-sisi negative  sedangkan sisi-sisi positifnya  sedapat mungkin jangan sampai dimunculkan. Cara berpikirnya negatif karena tujuannya negatif.

Ciri-ciri negative thinking

-Tujuannya negatif

-Selalu membantah pendapat orang lain yang berbeda

-Suka membantah (selalu membenarkan pendapatnya sendiri)

-Suka berdebat

-Berusaha membenarkan pendapatnya sendiri dan suka menyalahkan pendapat orang lain

-Bersikap tidak menghargai orang lain

-Tidak mau atau tidak mampu memahami pikiran orang lain

-Mencari dan mendapatkan “kemenangan”

-Sering salah paham

-Tidak kreatif dan tidak punya karya

-Suka mencela dan merasa pendapatnya yang paling benar

-Selalu punya persepsi negatif

-Selalu melihat masalah secara subjektif (tidak berdasarkan fakta)

Beberapa contoh

Berdasarkan pengalaman penulis, ada beberapa positive thinking yang selalu dipersepsikan secara negative thinking.

1.Dianggap bodoh karena tidak memakai gelar sarjana

Positive thinking:

Sejak diwisuda, saya boleh dikatakan tidak pernah memakai gelar sarjana. Tujuannya, saya ingin memberikanpencerahan ke masyarakat bahwa memakai gelar sarjana itu ada waktu dan tempatnya. Antara lain untuk kegiatan-kegiatan ilmiah. Gelar sarjana juga harus ditulis pada hal-hal yang relevan, misalnya kalau dalam kaitannya dengan profesi.

Negative thinking:

Karena saya tidak pernah memakai gelar sarjana, maka orang sering menganggap saya lulusan SMA. Bahkan dianggap orang bodoh, wawasan berpikirnya sempit dan pendapat-pendapat saya selalu disalahkan. Biasanya itu dilakukan oleh orang-orang yang belum mengenal saya secara pribadi, secara langsung atau tidak pernah sekampus dengan saya.

2.Dianggap tidak mengerti karena menggunakan istilah lain

Positive thinking:

Saya jadi nasabah bank itu sudah 30 tahun lebih dan suka berpindah-pindah bank. Suatu saat saya cerita ke teman-teman bahwa saya berhasil nego bunga deposito dari 4,25% per bulan menjadi 6,5% per bulan.

Negative thinking:

Teman-teman sayapun langsung menganggap saya tidak mengerti perbankan. Pendapat saya disalahkan. Katanya, bunga perbankan itu dihitung pertahun dan bukan per bulan. Padahal, kalau saya mengatakan bunga 6,5% per bulan itu maksudnya adalah bunga 6,5 % X pokok deposito/12. Hasilnya kan sama dengan 6,5% X pokok deposito per tahun dibagi 12.

3.Dianggap tidak mampu membeli mobil karena naik motor terus

Positive thinking:

Saya sejak SMA memang punya hobi naik motor. Bahkan punya cita-cita membuat motor amfibi. Naik motor praktis, hemat dan bisa mengatasi kemacetan lalu lintas.

Negative thinking:

Banyak orang, baik teman maupun tetangga yang menilai saya tidak mampu membeli mobil. Itu bias saya ketahui dari caranya mereka berbicara. Padahal, sebetulnya saya mampu membeli mobil tapi tidak membeli mobil karena alas an efisiensi.

4.Dianggap tidak mengerti karena tak pernah mengatakannya

Positive thinking:

Saya banyak sekali punya gagasan atau ide dan saya usulkan ke pemerintah. Banyak yang sudah direalisasikan pemerintah. Antara lain usul pengindonesiaan gelar sarjana, busway, peninggian separator busway, usul nama-nama halte bus,usul KTP Nasional dan E-KTP dan masih banyak lagi.

Negative thinking:

Orang yang tidak tahu, akan selalu menyalahkan saya kalau saya bicara tentang E-KTP atau mengritik pelaksanaan E-KTP yang saya nilai kurang sempurna. Padahal, saya sebagai pengusul KTP Nasional dan E-KTP, tentunya sangat memahami sekali soal-soal yang berhubungan dengan KTP Nasional maupun E-KTP. Rasanya lucu kalau saya yang mengusulkan E-KTP dianggap tidak mengerti E-KTP.

5.Dianggap meremehkan atau menganggap orang lain bodoh karena sering menggunakan kata koplak, bodoh, dungu, goblok dan semacamnya

Positive thinking:

Sebagai penulis kritik pencerahan (sejak 1973) tentu saya menggunakan bahasa yang berbeda. Ada kritik lunak, kritik sedang dan ritik keras. Kalau di surat kabar, saya menggunakan kritik lunak. Di blog/website saya menggunakan kritik sedang. Sedangkan di media social, saya menggunakan kritik keras. Antara lain menggunakan kata bodoh, dungu, bego, koplak, blegug an semacamnya (tanpa menyebutkan namanya). Tujuannya adalah sebagai “shock therapy”.

Negative thinking:

Namun, pembaca yang tidak faham psikologi-bahasa, akan menilai saya suka membodoh-bodohkan orang lain, suka meremehkan orang lain, suka menganggap orang lain bodoh, dianggap tidak menghargai orang lain, dianggap vulgat/kampungan, dianggap menyinggung perasaan orang lain dan semacanya. Padahal, mereka adalah orang-orang yang GR (gede rasa) karena artikel maupun tulisan-tulisan saya bersifat umum (tidak menyebut nama), kecuali nama buruk seseorang sudah diketahui umum. Misalnya, Anas Urbaningrum, Nazarudin dan lain-lain. Memang sulit menghadapi orang-orang yang GR.

6.Dianggap pamer ilmu atau sok pintar padahal mengamalkan ilmu

Positive thinking:

Sebagai penulis kritik pencerahan, tentu saja medianya adalah tulisan. Tentunya tulisan berbentuk artikel itu saya dukung kompetensi saya. Misalnya tentang psikologi, ilmu logika, ilmu ekonomi, politik, hokum, bahasa, computer dan lain-lain. Kebetulan saya banyak yang tahu karena sejak SMP saya punya hobi mebaca dan punya perpustakaan pribadi hingga ribuan buku. Nah, karena saya punya banyak ilmu, maka sebagai seorang muslim, saya mempunyai kewajiban untuk berbagi ilmu atau mengamalkan ilmu terutama tentang hal-hal yang jarang diketahui masyarakat luas.

Negative thinking:

Namun orang yang berkepribadian negative thinking salah paham. Mengira saya pamer ilmu, sok pintar, sarjana teoritis, tidak ilmiah, tidak bermutu, sokn tahu, sok mengerti. Bahkan saya dikatakan tidak mengikuti filsafat padi (semakin berilmu semakin merendahkan diri). Padahal yang saya anut adalah filsafat air terjun, di mana airnya mengaliri sawah-sawah supaya sawahnya subur. Artinya, saya mengamalkan ilmu dengan tujuan mencerdaskan bangsa.

7.Dianggap menghina agama Islam padahal yang dikritik adala perilaku orang Islamnya

Positive thinking:

Kalau saya mengritik, tujuannya pastilah positif. Apalagi kritik pencerahan. Misalnya, saya mengatakan sebagian umat Islam itu jorok. Buktinya, selesai shalat Ied sampah-sampah k9ran yang dibawa para jemaah, dibuang di sembarang tempat. Mengotori lapangan. Padahal, sampah-sampah itu bisa dibuang ke tempat yang seharusnya.

Negative thinking:

Namun, orang yang negative thinking menganggap saya menghina agama Islam. Padahal, yang saya kritik adalah sebagian orang Islam yang jorok. Tidak ingat ugkapan bahwa “Kebersihan adalah sebagian dari iman”. Bahkan, Nabi Muhammad SAW sendiripun mengajarkan kebersihan. Kebersihan itu berlaku di mana-mana, tidak cuma di masjid. Mengritik orang Islam yang jorok tidak sama dengan mengritik agama Islam. Sangat berbeda.

8.Dianggap alergi perbedaan pendapat. Padahal “berbeda pendapat” dan “asal berbeda pendapat” itu tidak sama

Positive thinking:

Bagi saya berbeda pendapat itu biasa-biasa saja. Bahkan tulisan-tulisan saya di berbagai surat kabar juga ditanggapi berbeda-beda. Ada yang pro dan ada yang kontra.

Negative thinking:

Namun, orang yang negative thinking mengira saya alergi perbedaan pendapat. Padahal, bagi saya, “berbeda pendapat” dan “asal berbeda pendapat” itu tidak sama. “Berbeda pendapat” itu dilakukan orang yang punyakompetensi. Misalnya, orang yang faham Ilmu Logika akan berbicara dari sudut Ilmu Logika. Sedangkan “asal berbeda pendapat” itu orang yang berbeda pendapat tapi tidak punya kompetensi. Misalnya tidak faham Psikologi tetapi merasa mengerti psikologi.

9.Dianggap sombong karena menunjukkan jati diri

Positive thinking:

Memang, saya pernah kuliah di 6 perguruan tinggi. Yang selesai 3 PT danyang tidak selesai 3 PT. Tidak selesai karena ada peraturan dari Kemendikbud bahwa mahasiswa PTN tidak boleh kuliah merangkap di sesame PTN karena pengaruhnya terhadap banyaknya subsidi SPP yang hanya dinikmati saya dan mahasiswa PTN yang merangkap kuliah. Dianggap meruikan Negara. Tidak selesai kuliah tidak beraryi tidak engerti. Say tetap kuliah secara mandiri, yaitu membaca buku-buunya secara otodidak. Nah, kalau saya mengatakan saya alumni 6 perguruan tinggi, saya sebenarnya cuma ingin mengatakan bahwa saya punya kompetensi atau kemampuan.

Negative thinking:

Tetapi, bagi negative thinking, saya dianggap sombong. Menyombongkan diri. Pamer kalau saya pernah kuliah di mana-mana. Menganggap saya sok hebat, sok pintar sok pamer. Dianggap saya meremehkan orang yang hanya lulusan satu perguruan tinggi. Padahal, saya menilai orang bukan dari latar belakang pendidikannya, tetapi dari wawasan berpikirnya. Sedih, menunjukkan jati diri dengan maksud positif, justru dianggap sombong.

10.Dianggap merasa benar terus padahal kebetulan memang benar terus

Positive thinking:

Karena saya memahami Ilmu Logika, yaitu ilmu yang mempelajari cara berpikir yang logis dan enar, tentu setyiap kali saya berpendapat, dasarnya adalah Ilmu Logika itu. Artinya,kecil kemungkinannya apa yang saya katakana itu salah. Sebab, sebelum saya menulis atau berkata, format-format berlogikanya saya siapkan terlebuh dulu. Sehingga boleh dikatakan 99,99% yang saya katakan atau saya tulis adalah merupakan kebenaran.

Negative thinking:

Namun, orang yang tidak memahami Ilmu Logika menganggap saya selalu merasa benar. Selalu menyalahkan pendapat orang lain. Padahal apa yang saya katakana adalah memang benar, bukan merasa benar. Kalau orang lain salah, memang salah, bukannya saya selalu menyalahkan. Ilmu logika mengatakan yang salah harus dikatakan salah dan yang benar harus dikatakan benar.

11.Disalahkan karena tidak sependapat dengan pendapat orang lain

Positive thinking:

Karena saya paham Ilmu Logika, tentu mudah sekali mengetahui kesalahan pendapat orang lain. Kalau saya tidak sependapat, tentu saya punya argumentasi yang panjang lebar.

Negative thinking:

Tetapi yang saya alami adalah, justru saya yang disalahkan. Karena bagi mereka, kebenaran itu sifatnya relative. Mereka juga merasa pendapatnyalah yang benar atau lebih benar. Mereka tidak tahu bahwa kebenaran itu ada dua macam. Yaitu, kebenaran objektif dan kebenaran subjektif. Saya yang faham Ilmu Logika tentu selalu berorientasi pada kebenaran objektif. Argumentasinya tentu cukup panjang.

12.Dianggap logikanya salah padahal memahami Ilmu Logika

Positive thinking:

Sebagai penulis kritik pencerahan, tentu punya tujuan meluruskan logika-logika yang bengkok. Misalnya, ada anggapan bahwa memilih dalam pemilu itu wajib. Padahal, memilih adalah “hak”, bukan “kewajiban”. Logika hak dan logika kewajiban pastilah berbeda.

Negative thinking:

Kenyataannya, banyak orang mencampuradukkan pengertian “hak” dan “kewajiban”. Bahkan ada yng anti golput, sinis terhadap golput, menyalahkan orang yang golput, menilai negative orang yang negative. Semua yang dikatakan tehadap golput bernuansa negative. Maklumlah, cara berpikir merka “negative thinking”.

13.Dianggap tidak menghargai pendapat orang lain padahal menunjukkan bahwa pendapat orang lain keliru

Positive thinking:

Saya kadang-kadang hal-hal yang sebenarnya. Mengatakan kebenaran. Tentu, saya kadang-kadang meluruskan pendapat orang lain yang salah. Argumentasinya pasti ada. Saya mengatakan salah atau benar karena berdasarkan Ilmu Logika yang saya pahami.

Negative thinking:

Lucunya, kalau saya mengatakan pendapat orang lain salah (wwalaupun secara diplomatis), dianggap saya tidak menghargai pendapat orang lain. Padahal salah atau benar itu ada caranya untuk menilainya. Memang, setiap orang merasa pendapatnya benar. Tetapi itu adalah kebenaran subjektif.

14 Dianggap bisanya cuma mengritik padahal salah satu aktivitasnya adalah sebagai “Penulis Kritik Pencerahan”

Positive thinking:

Sebagai penulis kritik pencerahan, kadang saya tulis di surat kabar, blog atau di Facebook. Semua tujuan kritik adalah baik, yaitu supaya yang dikritikkan sgera diperbaiki, Kritik disertai solusi atau tidak tergantung kepada siapa yang saya kritik. Juga, tergantung kepada masalah yang saya kritik. Kriti tidak harus disertai solusi atau saran,

Negative thinking:

Pastilah, ada suara-suara sinis yang mengatakan saya bisanya Cuma mengritik. Katanya, penulis kritik belum tentu bias melaksanakan, belum tentu bias berbuat lebih baik. Kalau orang mengritik harus bisa juga melakukannya, tentu ini logika yang lucu. Apakah kalau saya mengritik presiden, saya harus jadi presiden dan menunjukkan saya adalah presiden yang lebih baik? Apakah kalau saya mengritik seorang dosen, saya harus menjadi dosen? Apakah kalau saya mengritik ustadz, saya harus menjadi ustadz? Tentunya itu tidak realistis. Mengritik itu terbatas pada bagian-bagian tertentu saja.

15.Dianggap cuma teoritis saja

Positive thinking

Saya menulis artikel tujuannya adalah positif. Yaitu berbagi ilmu. Menyebaran ilmu. Turut mencerdaskan bangsa. Meluruskan logika-logika yang tidak lurus. Menambah pengetahuan dan wawasan bagi masyarakat. Artikel-artikel ataupun tulisan-tulisan yang saya buat pastilah terinspirasi dari berbagai buku yang pernah say abaca. Tujuannya positif.

Negative thinking

Ada juga yang menilai secara negative. Katanya, saya ini hanya teoritis saja. Hanya berteori saja. Seolah-olah kalau berteori itu salah. Padahal, tanpa teori orang tidak mungkin bisa praktek. Lagipula teori itu berdasarkan berbagai referensi dari beberapa pakar di bidangnya. Teori bisa hasil daripada penelitian, observasi atau hasil pemikiran yang mendalam. Gagasan ataupun usul itu juga teori. Bahkan beribadah atau shalatpun ada teorinya. Membaca Al Qur’anpun ada teorinya. Sebua teori kalau dasarnya ilmu, tentu tidak ada salahnya. Pendapat pribadi kalau benar secara ilmu logika, juga tidak perlu dissalahkan. Masalahnya adalah, negative thinking menilai teori sebagai hal yang tidak ada gunanya. Cara berpikirnya nihilisme. Justru, negative thinking tidak ada manfaatnya.

Kesimpulan

1.Positive thinking biasanya dimiliki oleh orang yang punya wawasan berpikir yang luas, walaupun berpendidikan rendah sekalipun.

2.Negative thinking bias saja dimiliki oleh siapa saja, terutama oleh mahasiswa/sarjana yang wawasan berpikirnya sempit.

Semoga bermanfaat

Hariyanto Imadha

Penulis Krtitik Pencerahan

Sejak 1973

Iklan

Kategori